Teori Kepribadian Sigmund Freud

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi atau menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya. Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu, hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental yang masuk ke kesadaran.

Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan dari unconscious. Materi taksadar yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari Id ini kemudian akan muncul Ego dan Superego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan seperti insting, impuls, dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah Unconscious,. Freud juga menyebut Id dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya (The True Physic Reality).

Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realita: sehingga Ego beroperasi mengikuti prinsip realita (Reality Principle). Prinsip itu dikerjakan melalui proses sekunder (Secondary Process), yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses itu disebut uji realita (Reality Testing). Ego sebagian besar berada di kesadaran dan sebagian kecil beroperasi di daerah prasadar dan taksadar.

Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego.

Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip, yakni conscience dan ego-ideal. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan (Ego-Ideal), yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego-ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah adalah bagaimana teori kepribadian dalam psikoanalisa klasik menurut Sigmund Freud?

C.    Tujuan

Tujuan dari untuk mengetahui dan memahami teori kepribadian dalam psikoanalisa klasik menurut Sigmund freud.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Kepribadian dalam Teori Psikoanalisa

Dalam teori psikoanalisa, kperibadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem yakni id, ego dan super ego.ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas.

a. Id

Id/das es adalah sistem kepribadian yang paling dasar, yang didalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk  dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem terebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dalam menjalankan fungsi dan operasinya, id bertujuan untuk menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan.

Untuk keperluan mencapai maksud dan tujuannya itu, id mempunyai perlengkapan berupa dua macam proses, proses yang pertama adalah tindakan-tindakan refleks, yaitu suatu bentuk tingkah laku atau tindakan yang mekanisme kerjanya otomatis dan segera, serta adanya pada individu merupakan bawaan. Proses yang kedua adalah proses primer. Yaitu suatu proses yang melibatkan sejumlah reaksi psikologis yang rumit. Dengan proses primer ini dimaksudkan bahwa id (dan organisme secara keseluruhan) berusaha mengurangi tegangan dengan cara membentuk bayangan dari objek yang bisa mengurangi teganan.

b. Ego

Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek tentang kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan.

Menurut Freud, ego tebentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan dijalankan ego adalah upaya memuaskan kebutuhan atau mengurangi tegangan oleh individu..

Ego dalam menjalankan fungsinya sebagai perantara dari tuntutan-tuntutan naluriah organisme di satu pihak dengan keadaan lingkungan dipihak lain. Jadi, fungsi yang paling dasar ego adalah sebagai pemelihara kelangsungan hidup individu.

c. Superego

Superego/das Uberich adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Adapun fungsi utama dari superego adalah :

  • Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls teresbut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
  • Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral dari pada dengan kenyataan.
  • Mendorong individu kepada kesempurnaan.

B.     Dinamika Kepribadian

Freud menyatakan gagasan bahwa energy fisik bisa diubah menjadi energy psikis, dan sebaliknya. Yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah id dengan naluri-nalurinya.

1. Naluri

Menurut Freud, naluri atau insting adalah representasi psikologis bawaan dari eksitasi (keadaan tegang dan terangsang) pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan tubuh.

2. Macam-macam naluri

Freud berpendapat bahwa naluri-naluri yang ada pada manusia itu ada dua macam, yaitu naluri-naluri kehidupan (life instincts) dan naluri-naluri kematian (death instincts).

3. Penyaluran dan penggunaan energi psikis

Dalam teori Freud dinamika kepribadian terdiri dari jalan tempat energi psikis disalurkan dan digunakan oleh id, ego dan superego. Karena jumlah energi itu terbatas, maka diantara ketiga sistem kepribadian tersebut hampir selalu terjadi persaingan dalam penggunaan energi. Satu sistem ingin mengambil kendali dan ingin memperoleh lebih banyak dari pada yang lainnya. Apabila salah satu sistem memperoleh energi lebih banyak, maka sistem-sistem yang lain akan kekurangan energi dan akan menjadi lemah, sampai energy baru ditambahkan kepada sistem keseluruhan.

4. Kecemasan

Freud membagi kecemasan menjadi tiga jenis, yaitu kecemasan riel, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Kecemasan real adalah kecemasan atau ketakutan individu terhadap bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar, sedangkan yang dimaksud dengan kecemasan neurotik adalah kecemasan atas tidak terkendalikannya naluri-naluri primitif oleh ego yang nantinya bisa mendatangkan hukuman. Adapun yang dimaksud kecemasan moral adalah kecemasan yang timbul akibat tekanan superego atas ego individu yang telah  atau sedang melakukan tindakan yang melanggar moral.

5. Mekanisme Pertahanan Ego

Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego adalah strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id, maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan. Freud menguraikan adanya tujuh macam mekanisme pertahanan ego, yaitu :

a. Represi

Represi adalah mekanisme yang dilakukan oleh ego untuk meredakan kecemasan dengan jalan menekan dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut kedalam tak sadar.

b. Sublimasi

Sublimasi adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif id yang menjadi penyebab kecemasan kedalam bentuk (tingkah laku) manusia yang bisa diterima dan dihargai masyarakat.

c. Proyeksi

Proyeksi adalah pengalihan dorongan, sikap atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.

d. Displacement

Displacement adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan pada objek atau individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibanding dengan objek atau individu semula.

e. Rasionalisasi

Rasionalisasi menunjuk kepada upaya individu menyelewengkan atau memutarbalikkan kenyataan yang mengancam ego, melalui alasan tertentu yang seakan-akan masuk akal.

f. Reaksi formasi

Reaksi formasi adalah reaksi dimana kadang-kadang ego individu bisa mengendalikan dorongan-dorongan primitive agar tidak muncul sambil secara sadar mengungkapkan tingkah laku sebaliknya.

g. Regresi

Regresi adalah suatu mekanisme dimana individu untuk menghindarkan diri dari kenyataan yang mengancam, kembali kepada taraf perkembangan yang lebih rendah serta bertingkah laku seperti ketika dia berada dalam taraf yang lebih rendah itu.

C.    Perkembangan Kepribadian

Teori psikoanalisa mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis, pertama, premis bahwa kepribadian individu dibentuk oleh berbagai jenis pengalaman masa kanak-kanak awal. Kedua, energy seksual (libido) ada sejak lahir dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang bersumber pada proses-proses naluriah organism.

Freud menyatakan bahwa pada manusia terdapat tiga fase atau tahapan perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Tiga fase tersebut adalah :

1. Fase Oral

Fase oral adalah fase pertama yang berlangsung pada perkembangan kehidupan individu. pada fase ini, daerah erogen yang paling penting dan paling peka adalah mulut.yakni berkaitan dengan pemuasan kebutuhan dasar akan makanan atau minuman. Stimulasi atau perangsangan atas mulut merupakan tingkah laku yang menimbulkan kesenangan atau kepuasan.

2. Fase Anal

Fase anal dimulai dari tahun kedua sampai tahun ketiga kehidupan. Pada fase ini energy liibidal dialihkan dari mulut ke daerah dubur,serta kesenangan dan kepuasan diperoleh dengan tindakan mempermainkan atau menahan kotoran (faeces). Pada fase ini pula, seorang anak diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihan yang disebut toilet training.

3. Fase Falik

Fase falik ini berlangsung pada tahun keempat atau kelima, yakni suatu fase ketika energi libido sasarannya dialihkan dari daerah dubur kedaerah alat kelamin. Pada fase ini anak mulai tertarik pada alat kelaminnya sendiri dan mempermainkannya dengan maksud untuk memperoleh kepuasan.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam teori psikoanalisa, kperibadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem yakni id, ego dan super ego.ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas.

  1. Id, adalah sistem kepribadian yang paling dasar, yang didalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk  dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem terebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dalam menjalankan fungsi dan operasinya, id bertujuan untuk menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan.
  2. Ego, adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek tentang kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Ego tebentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan dijalankan ego adalah upaya memuaskan kebutuhan atau mengurangi tegangan oleh individu.
  3. Superego,  adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Adapun fungsi utama dari superego adalah :
  • Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls teresbut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
  • Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral dari pada dengan kenyataan.
  • Mendorong individu kepada kesempurnaan.

Freud menyatakan gagasan bahwa energy fisik bisa diubah menjadi energy psikis, dan sebaliknya. Yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah id dengan naluri-nalurinya.

  1. Naluri
  2. Macam-macam naluri
  3. Penyaluran dan penggunaan energi psikis
  4. Kecemasan
  5. Mekanisme Pertahanan Ego, yang dapat diuraikan menjadi tujuh macam mekanisme pertahanan ego, yaitu :
  • Represi
  • Sublimasi
  • Proyeksi
  • Displacement
  • Rasionalisasi
  • Reaksi formasi

Freud menyatakan bahwa pada manusia terdapat tiga fase atau tahapan perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Tiga fase tersebut adalah :

  1. Fase Oral
  2. Fase Anal
  3. Fase Falik

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol, 2006. Psikologi Kepribadian. Edisi Revisi. Malang: UMM Press.

Hall, Calvin, S., Lindzey, G. (1985). Introduction to Theories of Personality. New York: John Wiley and Son.

Koeswara, E., (1991) Teori-Teori Kepribadian. Bandung

Sujianto, Agus, dkk. 1984. Psikologi Kepribadiaan. Surabaya: Bumi Aksara.

Suryabrata, S., 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Yusuf, S., dan Nurihsan J., (2008). Teori Kepribadian. Bandung: Rosda Karya.

Iklan

Teori Kepribadain menurut Alfred Adler

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Teori-teori psikoanalitik merupakan teori kepribadian yang dilandaskan atas dasar biologis manusia. Selain atas dasar biologis, teori kepribadian juga dilandaskan oleh pengaruh sosial. Menurut ilmu-ilmu sosial, individu merupakan produk dari masyarakat dimana ia hidup. Kepribadian orang lebih dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya (Hall & Lindzey 1993:238). Salah satu tokoh yang memandang kepribadian merupakan bentukan sosial adalah Alfred Adler, sehingga Alfred Adler dianggap sebagai bapak psikologi sosial baru (Hall & Lindzey 1993:238).

Boeree (2005:147) menuliskan sejarah singkatnya, bahwa Alfred Adler  lahir di Wina pada tanggal tujuh Februari, tahun  1870 sebagai anak ketiga dari seorang pengusaha Yahudi. Alfred menerima ijazah dokter dari Universitas of Vienna pada tahun 1895. Selama kuliah, dia sering bergabung dengan mahasiswa sosialis. Memulai karir sebagai seorang opthamologis, tapi kemudian beralih praktik umum dan membuka praktik di daerah kelas bawah di Wina dekat Prader, sebah tempat percampuran antara taman bermain dan sirkus. Saat berpraktek dokter umum, klien-kliennya termasuk anggota kelompok sirkus. Kekuatan dan kelemahan para pemain sirkus inilah salah satu yang membuatnya mencetus konsep kepribadian inferoritas dan kompensasi, dan kemudian menjadikannya seorang  psikiater.

Adler sendiri merupakan salah satu tokoh psikoanalisis, yang mengembangkan metodenya sendiri. Ketika Freud mengemukakan manusia sebagai seorang individu, atau Jung kemudian menambahkan bahwa manusia merupakan makhluk bertuhan, Adler melengkapi pembahasan manusia sebagai makhluk sosial. Dengan penjelasan itu maka pada makalah ini akan dibahas konsep kepribadian menurut Alfred Adler.

 

BAB II

URAIAN MATERI

            Adler berpendapat bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Motivasi pertama yang mendorong manusia adalah sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kerjasama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri. Sumbangan teori keribadian Adler yaitu: Dorongan sosial adalah sesuatu yang di bawa sejak lahir; konsep mengenai diri kreatif; dan keunikan tentang kepribadian. Adler berpendapat bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai. Berikut merupakan hasil dari pemikiran Adler tentang kepribadian.

A.    Finalisme Fiktif

Adler terpengaruh filsafat hans Vaihinger yang mengembangkan gagasan akan gamabaran fiktif. Gambaran-gambaran fiktif ini misalnya: “semua manusia diciptakan sama”;  “kejujuran adalah politik yang paling baik”; “tujuan membenarkan sarana”, dan lain-lain.

Adler menemukan ide bahwa manusia lebih dimotivasi oleh harapan-harapannya tentang masa depan daripada masa lampau. Misalnya apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang baik dan neraka bagi orang jahat, maka perilaku akan terdorong oleh kepercayaan-kepercayaan tersebut.  Tujuan akhir itu berupa suatu fiksi yang tidak mungkin secara realistis dilakukan.

B.     Perjuangan ke arah Superioritas

Adler memberi kesimpulan bahwa agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu diganti dengan “hasrat dan kekuasaan”. Karena itu tujuan akhir manusia menurut Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan. Ia merupakan dorongan kuat ke atas. Perjuangan ini sifatnya bawaan, dan merupaka bagian dari hidup. Dari lahir sampai mati perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi dari satu tahap perkembangan ke perkemabangan lainnya.

C.    Inferoritas dan Kompensasi

Adler mengemukakan bahwa yang menentukan letak gangguan tertentu adalah inferoritas dasar pada bagian itu, suatu inferoritas yang timbul karena hereditas maupun karena kelainan sesuatu dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati orang cacat sering kali mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuat latihan secara intensif, misalnya Theodore Roosevelt yang lemah pada masa mudanya, tetapi berkat latihan yang sistematik akhirnya menjadi orang yang berfisik tegap.

Perasaan inferoritas merupakan perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh. Adler menyatakan inferoritas dengan “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes maskulin”.

Adler menyatakan bahwa inferiritas bukan suatu tanda abnormalitas; melainkan penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia di dorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler tujuan hidup adalah kesempurnaan bukan kenikmatan.

D.    Minat Sosial

Minat Sosial berupa individu membantu masyarakat mencapai tujuan terciptanya masyarakat yang sempurna. Minat sosial merupakan kompensasi sejati dan tidak dapat dielakan bagi semua kelemahan manusia. Adler yakin bahwa minat sosial bersifat bawaan, karena itu ia menyediakan banyak waktu untuk mendirikan klinik bimbingan anak-anak, dan mendidik masyarakat tentang cara yang tepat dalam mengasuh anak.

Manusia didorong oleh nafsu akan kekuasaan dan didominasi yang tak terpuaskan oleh nafsu kekuasaan untuk mengkompensasikan suatu perasaaan inferoritas yang dalam dan tersembunyi. Di mata Adler tua, manusia dimotivasi oleh minat sosial bawaan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

E.     Gaya Hidup

Gaya hidup adalah suatu prinsip sistem, dengan mana kepribadian individu berfungsi; keseluruhanlah yang memerintah bagian-bagiannya. Gaya hidup merupakan prinsip idiografik Adler yang utama yang menjelaskan keunikan individu. Gaya hidup terbentuk sangat dini pada masa kanak-kanak, pada usia empat atau lima tahun.

Gaya hidup sebagian besar ditentukan oleh inferoritasinferoritas khusus, baik itu khayalan atau sesuatu yang nyata. Misalnya gaya hidup Napolen yang bersifat “serba menaklukan”. Itu bersumber pada tubuhnya yang sangat kecil. Kemudian nafsu “serakah” Hitler untuk menaklukan dunia, bersumber pada impotensi seksualnya.

F.     Diri Kreatif

Konsep ini merupakan puncak prestasi Adler sebagai teorikus kepribadian. Ketika ia menemukan daya kreatif pada diri, maka konsep yang lain ia tempatkan di bawah konsep ini. Diri kreatif bersifat padu, konsisten, berdaulat dalam struktur kepribadian.

Kepribadian merupakan jembatan stimlus-stimulus yang menerpa seseorang dan respon-respon yang diberikan  orang yang bersangkutan terhadap stimulus itu. Pada hakikatnya doktrin tentang kreatif itu menyatakan bahwa manusia membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia membangun kepribadiannya dari bahan mentah hereditas dan pengalaman.

G.    Penelitian Khas Dan Metode Penelitian

Observasi-observasi empiris Adler sebagian besar dilakukan di lingkungnan terapeutik, dan paling banyak berupa rekonstruksi tetang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien-pasien, dan penilaian-penilaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan verbal. Beberapa penelitian nya:

1.   Urutan kelahiran dan Kepribadian

Adler mengamati bahwa terdapat perbedaan kepribadian antara anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Anak sulung mendapat banyak perhatian sampai anak ke dua lahir. Ia harus membagi kasih sayang saat anak ke dua lahir. Pengalaman ini bisa membuat anak sulung bertingkah laku bermacam-macam, seperti: membenci orang lain, melindungi diri, dan merasa tidak aman. Anak sulung cenderung menaruh perhatian pada masa lampau ketika mereka menjadi pusat perhatian. Orang neurotik, penjahat, pemabuk dan yang bermoral bejat diamati Adler sebagai anak sulung.

Anak tengah cenderung ambisius. Ia selalu berusaha melebihi kakaknya. Ia cenderung memberontak atau iri hati,  tetapi pada umumnya ia dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik dibandingkan kakak atau adiknya.

Anak bungsu adalah anak yang dimanjakan. Sama seperti anak sulung, kemungkinan besar menjadi anak yang mengandung masalah dan menjadi orang dewasa neurotik yang tidak mampu menyesuaikan diri.

2.   Ingatan-ingatan Awal

Adler berpendapat bahwa ingatan paling awal yang dapat dilaporkan seseorang merupakan kunci penting untuk memhami gaya hidup dasarnya. Misalnya seorang gadis yang mengatakan bahwa “ketika saya berusaia tiga tahun, ayah saya….”, hal ini menujukan bahwa ia lebih tertarik dengan ayahnya daripada ibunya. Contoh lain seorang pemuda yang dirawat karena menderita kecemasan berat, mengenang kembali suatu peristiwa dimasa lampau dengan bercerita “ketika saya berusia kira-kira empat tahun, saya duduk di jendela dan memperhatikan sejumlah pekerja membangun sebuah rumah di sebrang jalan, sementara ibuku merajut kaos kaki”. Ingatan ini menunjukan pemuda itu ketika kanak-kanak dimanjakan karena ingatannya berkisar sekitar ibunya yang bersikap melindungi.

Adler menggunakan metode ini terhadap kelompok-kelompok maupun perorangan dan menemukan ternyata metode ini cukup mudah dan ekonomis untuk meneliti keribadian. Ingatan awal kini digunakan sebagai teknik projektif.

3.   Pengalaman masa kanak-kanak

Adler menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gaya hidup yang salah yaitu: Anak-anak yang memilki inferoritasinferoritas; anak-anak yang dimanjakan; anak-anak terlantar.

Anak yang memilki inferoritas sering kali dianggap gagal. Akan tetapi, jika mereka memiliki orang tua yang memahami dan mendorong mereka bisa melakukan kompensasi terhadap inferoritasnya, maka mereka akan mampu mengubah kelemahannya menjadi kekuatan.

Anak-anak yang dimanjakan tidak mengembangkan perasaan sosial; mereka menjadi orang yang selalu mengharapkan masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. Adler menganggap bahwa mereka sebagai kelompok masyarakat yang berbahagia.

Kemudian, anak yang diabaikan akan membawa akibat yang tidak menguntungkan. Anak yang diperlakukan buruk pada masa kanak-kanak akan menjadi musuh apabila mereka sudah dewasa. Gaya hidup mereka dikuasai oleh kebutuhan untuk balas dendam.

BAB III

IMPLIKASI DAN KESIMPULAN

A.    Implikasi

Memandang manusia sebagai seorang yang unik yang tidak bisa dipisahkan dengan lingkungan sosial tempat ia dibesarkan menjadi sesuatu hal yang perlu kita sadari. Pendidikan sebagai sebuah usaha sadar dan terencana untuk membentuk kepribadian manusia, seharusnya mampu untuk mengkonstruksikan  kondisi sosial ideal bagi para peserta didik.

Dalam aplikasinya, teori-teori Adler bisa digunakan suatu rumusan pola pendidikan, tentang pentingnya suatu tujuan ideal yang bisa mendrong anak lebih maju; pentingnya membangun karakter anak yang bertanggung jawab sejak kecil, dan pentingnya mengajarkan bersosialisasi bagi anak.

Karena itu peran orang tua atau guru itu sebagai pendorong anak untuk menunjukan pilihan perilaku yang baik agar terdorong menjadi peribadi yang kreatif, yang bisa membangun dunianya dengan mandiri. Kemudian  anak harus pandai menempatkan diri, dan mau bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Kurikulum di buat dengan suatu rumusan akan tujuan ideal manusia beserta tahapan-tahapan pelaksanaannya.

Adler sebagai teorikus kepribadian yang sangat fokus terhadap lingkungan sosial tidak lantas memiliki teori sempurna. Boeree (2005:174) menuliskan bahwa  pada waktu itu banyak yang mengkritik teorinya sebagai sesuatu yang sifatnya tidak ilmiah seperti para teorikus behavioral, ataupun ekperimental. Kemudian sebagian besar teorinya bersifat anekdotal, artinya hanya benar dalam beberapa kasus, tidak bisa digeneralisir. Misalnya dalam tipe kepribadian anak sulung, tengah, dan bungsu, atau penyelidikan nya bahwa para penjahat itu selalu dari anak sulung.

B.     Kesimpulan

Manusia dimotivasi oleh dorongan sosial. Pria dan wanita adalah makhluk sosial dan masing-masing orang dalam berelasi dengan orang lain mengembangkan gaya hidup yang unik. Adler sangat menekankan determinan sosial kepribadian daripada seksual. Pusat kepribadian adalah kesadaran. Manusia adalah tuan, bukan korban nasib.

Manusia sangat terdorong oleh kebutuhan inferoritas yang inheren serta untuk mencapai superioritas. Tujuan hidup adalah kesempurnaan, bukan kesenangan.

Usaha yang dilakukan untuk mencapai superiritas adalah dengan mencari kekuasaan. Dengan itu seseorang ingin mengubah kelemahan dengan kekuatan sebagai kompensasi kekurangannya. Selain itu orang mengembangkan gaya hidup yang berbeda. ada yang mengembangkan inteleknya, mengembangkan ototnya, dan seterusnya. Gaya hidup ini dibentuk pada masa kanak-kanak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Boeree, C.G. 2005.  Personality theories (cetakan ke II). Yogyakarta: Primashopie

Hall, C., Lindzey G (Alih bahasa Dr. A Supratiknya). 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis).Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Hall, C.,Lindzey, G. 1985. Personality Theories. NewYork: Jhon Wiley Sons